Suatu saat, jika Allah berkehendak, kita akan menjadi seorang ibu. Tapi pertanyaannya adalah, menjadi seorang ibu seperti apa yang kita pilih?
Menurutku, menjadi seorang ibu adalah pekerjaan seumur hidup. Kenapa begitu? Ya, karena sebelum kita meninggal, amanah ini akan selalu menjadi tanggungjawab kita di dunia. Bahkan, jika seorang istri bercerai dengan suami pun, peran seorang istri akan hilang pada diri seorang istri, tapi tidak dengan peran seorang ibu. Kita akan tetap menjadi ibu bagi anak-anak, bukan? Menjadi pendidik bagi mereka, yang telah Allah titipkan di rahim lalu lahir ke dunia ini. Kejam rasanya jika seorang istri bercerai dengan suami, tapi peran ia sebagai ibu serta merta dicampakkan.
Menjadi seorang ibu terkadang bisa menjadi pilihan seseorang untuk menjalani kehidupan dalam rangka mencari ridho Allah. Menjadi seorang ibu, sebagaimana yang aku rasakan saat ini adalah amanah berat. Betapa tidak, setelah tau bahwa aku mengandung mereka di rahimku, aku langsung buta atas apa yang harus aku lakukan. Tidak seperti masa-masa saat kuliah dulu, rasanya dunia ini bisa kugenggam, semua ilmu bisa kulahap dengan mantap. Tapi tiba-tiba aku menjadi buta ketika Allah menyematkan amanah ini. Namun, naluri seorang ibu-lah yang menjadikan aku belajar banyak tentang bagaimana mengurus mereka dari mulai mengandung hingga melahirkan.
Musuh seorang ibu saat hamil sudah tentu adalah moodswing. Hal ini sudah menjadi teman dekat kita tatkala janin berkutat di rahim. Muka cemberut, wajah masam tak tertahan terkadang menjadi boomerang buat suami yang letih setelah bergelut dengan tumpukan pekerjaan. Tapi disinilah Allah uji sebagai seorang istri, pun sebagai calon ibu. Mood yang berantakan tidak bisa dijadikan alasan atas perlakuan tak mengenakkan kita pada suami. Memang benar, tidak dipungkiri bahwa saat hamil, kita akan mengalami lonjakan hormon, stres atau bahkan kelelahan. Namun sebagai istri dan calon ibu yang baik, tentulah rasa-rasa itu bisa kita minimalkan hadirnya. Begitupun seorang suami, ketika istri sedang hamil, hendaklah sedikit menurunkan ego ketika mungkin istrimu sedang sedikit bermanja dihadapanmu. Kamu pasti tau, bahwa menyenangkan istri adalah sebentuk kasih sayang yang kau sematkan pada istrimu. Peluk lah ia, urutlah punggungnya, mungkin ia tak bersuara dan menyuruhmu melakukan hal yang ia ingini. Karena ia merasa kamu sudah cukup lelah dengan pekerjaan di tempat kerjamu. Tapi tau tidak, bahwa kelembutan akan membuat istrimu luluh, loh. Ya, begitu lah wanita, hatinya akan lunak walau seperkasa apapun ia.
Lalu, apa pilihan terbaik kita menjadi seorang ibu? Setelah melahirkan mereka, apa hal-hal terbaik yang sudah kita lakukan? Aku percaya, ibu-ibu di dunia ini, tidak akan membuat sesuatu hal yang menghancurkan dunia anak-anaknya. Aku yakin, seorang ibu tidak akan sampai hati melihat anak-anaknya pesakitan karenanya.
Ketika kita memilih sebagai seorang ibu rumah tangga, nilai plus yang akan kita dapatkan adalah bisa menemani tumbuh kembang mereka, ketika ada sesuatu yang harus di interupsi, cepat-cepat kita periksa, apa sih yang salah? Ya, walaupun dibarengi dengan riweuh nya mengurus pekerjaan domestik lainnya. Tapi kepuasan melihat milestone mereka setiap hari tentulah menjadi kan kita seorang ibu akan merasa tenang karena anak-anak kita sendiri yang handle. Walaupun, tidak jarang kita bisa mempunyai dua kepribadian karena mereka, kadang menjadi ibu peri kadang jadi serigala tak berperi hehe.
Pun, seorang ibu pekerja tidak ada salahnya, biasanya seorang ibu akan memilih bekerja ketika keadaan sudah tidak memberikan pilihan lagi untuknya. Bisa berbagai alasan, mulai dari perekonomian keluarga, ingin mengejar cita-cita yang dulu sempat tertunda, atau berbagai hal-hal lain di luar kehendak kita. Maka dari itu hadirkan 1001 alasan dan udzur bagi mereka, tak perlulah menjulid, tak perlu menghibah. Karena bagi sebagian orang, menjadi ibu pekerja menjadi momok yang menakutkan di tengah-tengah masyarakat, karena pasti akan jadi omongan "ih itu si ibu itu kok malah kerja sih, bukannya jagain anaknya dirumah, bla bla bla" Tau nggak, mulut jahat kita yang seperti itu mampu menyayat hati seorang ibu, loh.
Sehingga, janganlah mendikte pada ibu pekerja, "ih kalian mah enak, nggak ada struggle nya." Justru disitulah letak perjuangan mereka. Ingat! Allah lah yang menilai. Kita manusia tak berhak atas itu.
Oleh karena itu, apapun pilihanmu menjadi seorang ibu, tetaplah menjadikan Allah sebagai tempat kita bertumpu. Jika menjadi seorang ibu rumah tangga yang menemani dan mendidik anak-anak 24 jam dirumah, tanpa pengasuh tambahan, tanpa ART, hendaklah dengan sepenuh hati menemani mereka bertumbuh dan berkembang, hadirkan hati dan jiwa kita, jangan hanya raga namun pikiran kita entah kemana melanglang buananya. Ketika si kecil ingin mengajak bermain, letakkan gadget dan fokus padanya walaupun barang beberapa menit. Jangan sampi pekerjaan rumah lainnya menjadi alasan kita mengurangi waktu berharga untuk mereka.
Begitupun ketika kita memilih menjadi seorang ibu pekerja. Hendaklah menaruh perhatian penuh pada mereka ketika waktu luang kita banyak, sediakan waktu liburan yang penuh dengan kenangan-kenangan bersama mereka, agar kelak ketika kita jauh dari mereka, akan ada ikatan bathin yang menjalin. Akan ada kenangan-kenangan yang ingin diulang. Akan ada isak tangis melepas keberpisahan kita dengannya. Bukan malah "Senangnya. Yes! Bunda udah nggak ada." Sedih kan?!
Intinya, apapun pilihan yang kita pilih, pastikan Allah ridho dan anak-anak kita tidak merasa lega telah jauh dari orangtuanya.
Timika, 21 Januari 2025
Ditulis saat anak-anak sedang tidur 💕
No comments:
Bila ada komentar, kritik atau saran silakan ditulis disini ya. Terimakasih.