#4 Meraih Matahari - infpage

#4 Meraih Matahari

Sinar matahari masuk melalui celah-celah dinding kamarku, ternyata aku tertidur setelah sholat subuh tadi. Penat sekali rasanya, menjadi seorang tukang koran dan menjajakan gorengan di sekitar pangkalan tempat aku biasanya berjualan. Namun, semua itu tak seberapa. Lebih tepatnya aku merasa penat dengan semua yang dikatakan Wisnu padaku kemarin. "Sampai seperti inikah Ratih padaku?" Ujarku dalam diam.

Jam telah menunjukkan pukul 8 pagi. Seharusnya, pagi ini aku sudah berada di penggorengan mbak Ajeng untuk mengambil gorengan dan menjajakannya di pangkalan tempat aku biasa berjualan. Mataku masih belum mau terbangun. Di dalam kamar ini aku masih setia berbaring di atas dipan dengan segudang tanda tanya aku pada Ratih. 

Hari ini aku berencana menemuinya, namun aku tidak berani sendirian. Aku harus mencari seorang teman agar tak menjadi "apa-apa" nantinya ketika orang melihat aku yang hanya jika berduaan dengannya saja. "Aku harus menemui Ratih sama siapa ya?" Bathinku.

Aku, tak punya "kawan". Semenjak kepergian bunda, ayah dan juga adikku, aku menjadi lelaki yang menutup diri. Tidak banyak teman-teman yang seperti kebanyakan orang punya. Jika mereka sedang mengalami duka lara atau bahkan rasa bahagia sekalipun, mereka akan punya "cawan" untuk menumpahkan segala rasa. Namun aku, aku hanyalah seonggok daging yang malang tak berkawan. Aku akan menghadapi semua sendirian, tidak ada teman curhat atau tempat menumpah penat. Semua itu hanya aku lakukan di atas sajadah lusuhku. Mau menangis hingga air mata keringpun aku tetap di atasnya. Ya, begitulah aku, seorang lelaki yang kaku.

***

Sore ini udaranya lembut, semilir angin masuk segar ke dalam kerongkongan. Banyak anak-anak kecil berlarian main-main dengan temannya, bersama orangtuanya, tertawa bercengkrama menikmati senja yang indah hari ini. Sesekali mereka terjatuh di atas pasir putih yang indah itu. Bermain air dan menyeka wajah mereka yang terkena cipratan ombak laut.

Aku, mataku tak hentinya menerawangi kejauhan. Entah apa yang aku lihat, aku hanya merasakan keheningan walaupun ombak pantai menyembur deras. Aku, disini masih dengan tanya di kepalaku, aku memaksakan diri untuk sejenak tenang dan menyiapkan mental untuk bertemu dengannya. Ternyata, Ratih masih dirawat di rumah sakit. Ia masih belum boleh pulang ke rumah karena kondisinya masih mengkhawatirkan. Cahaya senja menyiram wajahku dengan lembut, terasa angin membelai wajah kuyuku ini. Rasanya ingin pulang. Aku kembali teringat dengan sosok bunda. Saat-saat seperti inilah yang membuat aku ingin sekali kembali ke masa itu, masa-masa dimana bunda selalu memelukku ketika aku jatuh dari kursi, ketika aku menangis meminta jajan namun tidak diberikan ayah, ketika aku sesenggukan karena ingin ikut bunda ke pasar, ketika tak ada lagi yang aku mainkan maka tepung bundalah yang aku jadikan "senjata api" untuk bermain. Ah, masa-masa itulah yang membuat aku sadar bahwa bunda tidak ada bersamaku lagi.

"Assalamu'alaikum, Rama." Tiba-tiba terdengar suara wanita dari arah samping.

(to be continue)


No comments:

Bila ada komentar, kritik atau saran silakan ditulis disini ya. Terimakasih.

Wira Puspa Nuansa

#nursahab